Rabu, 20 Agustus 2014

Teguran Kawanku Menyadarkanku




Hari ini, Senin 23 Juni 2014 saya mendapatkan pelajaran berharga dalam hal etika berbahasa pada pesan singkat. Saya mendapat teguran dari seorang teman melalui pesan singkat juga. Seperti ini bunyi pesan singkat itu “mbak aku bilang seperti ini karena aku peduli, besok lagi kalau ngomong mbok ya yang lebih halus. Kita ini sama-sama orang yang bekerja sebagai karyawan”. Bukan mudah menerima dengan ikhlas pesan seperti itu. sifat egoisku menentang untuk menerima teguran itu. ingin sekali aku memaki orang yang mengirim pesan. Berani-beraninya dia menegurku seperti itu.
Aku menghela napas, mencoba mencerna dengan baik pesan di otakku. Aku baca pelan-pelan pesan itu, mencoba melihat sisi positif dari pesan itu (meski dalam dada berdebar keras karena menolak). Aku berpikir keras dan mencoba tidak menuruti emosi marah. Aku uraikan kalimat dalam pesan itu seperti ini:
1.              Mbak aku bilang seperti ini karena aku peduli, aku mencoba mengartikannya seperti ini dia ingin memberi tahuku dengan kalimat yang halus, dia ingin menegur kesalahanku tanpa melukai perasaanku, dia ingin menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak berkenan dengan pesan yang kukirim yang menurut dia itu kasar. Dan aku jawab dalam hati, ‘ok aku terima teguran ini’
2.              Besok lagi kalo ngomong mbok ya lebih halus, pada kalimat ini berarti dia menunjukkan kesalahanku yaitu berkata-kata yang menyakitkan dirinya dan itu tidak aku sadari. Aku mencoba memposisikan diriku menjadi dia saat menerima pesan yang dianggapnya ‘kasar’. Dan aku memilih untuk menyerah, ya aku akan merasakan hal yang sama ketika berada diposisi dia.
3.              Kita ini sama-sama bekerja hanya sebagai karyawan, kalimat ini merupakan tamparan yang paling keras. Mengapa? Aku baru ingat bahwa aku dan dia sama, sama-sama bekerja mencari rejeki di tempat yang sama. Tidak semestinya aku bersikap arogan dengan berkata-kata yang dianggap orang lain itu tidak baik.
Dari pesan singkat itu aku belajar untuk berperilaku dengan tetap memperhatikan orang lain. Apakah perilaku ku akan menyakiti, menghina, membuat marah atau hal lain yang merugikan orang lain. Aku harus berpikir dan memilih hal yang tepat untuk aku lakukan. Karena aku tidak hidup sendiri, aku tidak hidup dihutan, aku hidup di tengah-tengah masyarakat yang menuntut untuk berperilaku sosial.
Terimakasih kawan atas teguranmu hari ini.

sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=teman&client=firefox-beta&hs=1Bz&rls=org.mozilla:en-US:official&channel=fflb&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=jFj1U6DcM8qfugTRh4LIAw&ved=0CCQQsAQ&biw=1024&bih=489