Di tempat saya bekerja mempunyai
kebiasaan saling menyapa. Kebiasaan menyapa tersebut dilakukan semua karyawan,
bahkan manajer pun tidak segan untuk menyapa stafnya. Sapaan yang sering
digunakan misalnya dengan ucapan selamat pagi ketika tiba di kantor, saat akan
pulang mengucapkan selamat sore atau selamat malam. Jika ada salah seorang karyawan yang belum terbiasa
menyapa biasanya karyawan lain akan
menyapa terlebih dahulu. Dengan demikian
akan mempengaruhi perilaku karyawan yang belum terbiasa menyapa untuk mau
menyapa.
![]() | |
Komunikasi seperti menyapa ini tidak
ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Komunikasi
ini adalah komunikasi untuk menimbulkan
kesenangan (Rakhmat, 1985) atau yang lazim disebut komunikasi fatis (phatic communication).
Pengendalian yang mungkin dilakukan
dengan perilaku saling menyapa adalah menjaga suasana hati. Hal ini agar kita
dapat menyapa rekan kerja atau orang yang kita temui di kantor dengan perasaan
senang. Dengan demikian dapat diciptakan hubungan yang hangat, akrab, dan
menyenangkan.
Prediksi saya ketika perilaku saling
menyapa terus dilakukan terutama di lingkungan kantor adalah akan terjadi komunikasi
yang efektif. Seperti yang diungkapkan oleh Tubbs dan Moss (1974, dalam Rakhmat
1985) bahwa komunikasiyang efektif paling tidak menimbulkan lima hal yaitu
pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan
tindakan. Meskipun menyapa hanya masuk dalam salah satu kriteria yang
diungkapkan Tubbs dan Moss, tetapi merupakan usaha untuk dapat menciptakan
komunikasi yang efektif.
Daftar
Pustaka
Rakhmat, J. (1985). Psikologi komunikasi. Bandung: Remadja
Karya
