Rabu, 21 Mei 2014

Membentuk Komunikasi Efektif dengan Menyapa



Di tempat saya bekerja mempunyai kebiasaan saling menyapa. Kebiasaan menyapa tersebut dilakukan semua karyawan, bahkan manajer pun tidak segan untuk menyapa stafnya. Sapaan yang sering digunakan misalnya dengan ucapan selamat pagi ketika tiba di kantor, saat akan pulang mengucapkan selamat sore atau selamat malam. Jika  ada salah seorang karyawan yang belum terbiasa menyapa biasanya karyawan lain akan
sumber gambar: mandarin.web.id


menyapa terlebih dahulu. Dengan demikian akan mempengaruhi perilaku karyawan yang belum terbiasa menyapa untuk mau menyapa.
Komunikasi seperti menyapa ini tidak ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Komunikasi ini  adalah komunikasi untuk menimbulkan kesenangan (Rakhmat, 1985) atau yang lazim disebut komunikasi fatis (phatic communication).
Pengendalian yang mungkin dilakukan dengan perilaku saling menyapa adalah menjaga suasana hati. Hal ini agar kita dapat menyapa rekan kerja atau orang yang kita temui di kantor dengan perasaan senang. Dengan demikian dapat diciptakan hubungan yang hangat, akrab, dan menyenangkan.
Prediksi saya ketika perilaku saling menyapa terus dilakukan terutama di lingkungan kantor adalah akan terjadi komunikasi yang efektif. Seperti yang diungkapkan oleh Tubbs dan Moss (1974, dalam Rakhmat 1985) bahwa komunikasiyang efektif paling tidak menimbulkan lima hal yaitu pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan. Meskipun menyapa hanya masuk dalam salah satu kriteria yang diungkapkan Tubbs dan Moss, tetapi merupakan usaha untuk dapat menciptakan komunikasi yang efektif.

Daftar Pustaka
Rakhmat, J. (1985). Psikologi komunikasi. Bandung: Remadja Karya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar