Menolong merupakan salah
satu perilaku yang termasuk dalam kategori perilaku prososial. Perilaku
prososial yaitu suatu tindakan yang oleh masyarakat dianggap sebagai
menguntungkan orang lain serta berdampak sosial
yang positif (Shinta, 2002). Perilaku menolong ini ditunjukkan oleh ibu
Sari (bukan nama sebenarnya).
Suatu saat ketika dia dan
anak perempuannya sedang dalam perjalanan pulang dari pasar, ibu Sari
menyaksikan peristiwa kecelakaan lalu lintas. Dalam kecelakaan tersebut yang
menjadi korban adalah seorang wanita yang mengendarai motor. Kondisi korban
saat itu sangat mengenaskan. Helm yang dipakai korban terlepas, sehingga
kepalanya mengeluarkan banyak darah. Saat itu tidak ada orang yang menolong
korban, dan ibu Sari memutuskan untuk menolong korban. Dia mencoba menolong
sebisanya, sementara anaknya diminta untuk menghentikan kendaraan yang bisa
digunakan untuk membawa korban ke rumah sakit.
Ibu Sari bersedia menolong
korban karena dia merasa kasihan, terlebih karena korbannya adalah perempuan.
Ibu Sari dengan senang hati menolong korban. Perilaku ibu Sari tersebut sesuai
dengan prinsip kedua yang diungkapkan oleh Piliavin dan Charng pada tahun 1990
serta Simmons pada tahun 1991 (dalam Michener & DeLamater, 1999 dalam
Shinta, 2002). Prinsip tersebut yaitu
manusia pada dasarnya baik hati, tidak egois dan peduli terhadap kesejahteraan
orang lain.
Dengan perilakunya yang
senang hati saat menolong orang lain menurut prediksi saya ibu Sari akan
semakin diterima masyarakat. Hal ini karena ibu Sari melaksanakan salah satu
norma dalam masyarakat. Norma tersebut adalah setiap anggota masyarakat
mempunyai kewajiban untuk menolong orang yang tergantung padanya (social responsibility norm). Bila
dilihat dari batasan dari Michener dan DeLameter (1999 dalam Shinta, 2002),
maka alasan yang berdasarkan norma sosial termasuk dalam motif altruisme.
Altruisme adalah tindakan suka rela yang didasarkan pada niat untuk menolong
orang lain dan tidak diikuti pengharapan munculnya keuntungan.
Perilaku
yang mungkin dilakukan oleh ibu Sari agar prediksi diatas dapat dikendalikan
adalah ibu Sari menjaga suasana hatinya agar bahagia. Hal ini karena orang yang
bahagia cenderung lebih bersedia menolong daripada orang yang suasana hatinya
sedih (Michener dan DeLamater, 1999 dalam Shinta 2002). Ada tiga alasan mengapa
orang yang bahagia cenderung lebih bersedia menolong. Alasan pertama adalah
orang yang bahagia itu tidak dibebani persoalan pribadi, sehingga ia mampu
melihat masalah yang dihadapi orang lain. Alasan kedua orang yang bahagia lebih
merasa beruntung daripada orang yang sedih. Dan alasan yang ketiga adalah orang
yang bahagia melihat dunia dengan pandangan positif dan ia ingin perasaan itu
berlangsung lama. Jadi bila memberi bantuan pada orang lain berarti membuat
perasaan menjadi lebih optimis maka ia cenderung akan melakukan hal itu.
Daftar Pustaka
Shinta, A. (2002). Pengantar psikologi sosial. Edisi ke-2.
Yogyakarta: Universitas Proklamasi 45
sumber gambar:
http://www.wartanews.com/lifestyle/7a2c0f71-6042-4823-a03f-26f997d847b6/tonton-kecelakaan-anak-harus-menolong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar