Minggu, 08 Juni 2014

Menerapkan Motif am Perilaku Menolong



Tonton Kecelakaan, Anak Harus Menolong
Menolong merupakan salah satu perilaku yang termasuk dalam kategori perilaku prososial. Perilaku prososial yaitu suatu tindakan yang oleh masyarakat dianggap sebagai menguntungkan orang lain serta berdampak sosial  yang positif (Shinta, 2002). Perilaku menolong ini ditunjukkan oleh ibu Sari (bukan nama sebenarnya).
Suatu saat ketika dia dan anak perempuannya sedang dalam perjalanan pulang dari pasar, ibu Sari menyaksikan peristiwa kecelakaan lalu lintas. Dalam kecelakaan tersebut yang menjadi korban adalah seorang wanita yang mengendarai motor. Kondisi korban saat itu sangat mengenaskan. Helm yang dipakai korban terlepas, sehingga kepalanya mengeluarkan banyak darah. Saat itu tidak ada orang yang menolong korban, dan ibu Sari memutuskan untuk menolong korban. Dia mencoba menolong sebisanya, sementara anaknya diminta untuk menghentikan kendaraan yang bisa digunakan untuk membawa korban ke rumah sakit.
Ibu Sari bersedia menolong korban karena dia merasa kasihan, terlebih karena korbannya adalah perempuan. Ibu Sari dengan senang hati menolong korban. Perilaku ibu Sari tersebut sesuai dengan prinsip kedua yang diungkapkan oleh Piliavin dan Charng pada tahun 1990 serta Simmons pada tahun 1991 (dalam Michener & DeLamater, 1999 dalam Shinta, 2002). Prinsip tersebut  yaitu manusia pada dasarnya baik hati, tidak egois dan peduli terhadap kesejahteraan orang lain.
Dengan perilakunya yang senang hati saat menolong orang lain menurut prediksi saya ibu Sari akan semakin diterima masyarakat. Hal ini karena ibu Sari melaksanakan salah satu norma dalam masyarakat. Norma tersebut adalah setiap anggota masyarakat mempunyai kewajiban untuk menolong orang yang tergantung padanya (social responsibility norm). Bila dilihat dari batasan dari Michener dan DeLameter (1999 dalam Shinta, 2002), maka alasan yang berdasarkan norma sosial termasuk dalam motif altruisme. Altruisme adalah tindakan suka rela yang didasarkan pada niat untuk menolong orang lain dan tidak diikuti pengharapan munculnya keuntungan.
Perilaku yang mungkin dilakukan oleh ibu Sari agar prediksi diatas dapat dikendalikan adalah ibu Sari menjaga suasana hatinya agar bahagia. Hal ini karena orang yang bahagia cenderung lebih bersedia menolong daripada orang yang suasana hatinya sedih (Michener dan DeLamater, 1999 dalam Shinta 2002). Ada tiga alasan mengapa orang yang bahagia cenderung lebih bersedia menolong. Alasan pertama adalah orang yang bahagia itu tidak dibebani persoalan pribadi, sehingga ia mampu melihat masalah yang dihadapi orang lain. Alasan kedua orang yang bahagia lebih merasa beruntung daripada orang yang sedih. Dan alasan yang ketiga adalah orang yang bahagia melihat dunia dengan pandangan positif dan ia ingin perasaan itu berlangsung lama. Jadi bila memberi bantuan pada orang lain berarti membuat perasaan menjadi lebih optimis maka ia cenderung akan melakukan hal itu.

Daftar Pustaka
Shinta, A. (2002). Pengantar psikologi sosial. Edisi ke-2. Yogyakarta: Universitas Proklamasi 45
sumber gambar:
http://www.wartanews.com/lifestyle/7a2c0f71-6042-4823-a03f-26f997d847b6/tonton-kecelakaan-anak-harus-menolong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar